Berkunjung ke Negeri Para Mullah
Berkunjung ke Negeri Para Mullah
Oleh: Dr. Muhamad Supraja[1]
Baliho bergambar Imam Khomeini di Qom
Perjalanan ke Iran akhirnya terwujud. Tepatnya tanggal 6 Januari 2010 aku bersama istri berangkat menuju Iran dengan menggunakan pesawat Qatar Airways. Nyaris saja aku tertinggal, karena taksi yang menjemputku menuju bandara Soekarno-Hatta dari tempat persinggahanku di rumah salah seorang teman semasa SMA di Yogya, yang beralamat di Pondok Kopi, tak kunjung tiba. Kendati taksi tidak jua muncul, namun saat itu tidak ada perasaan yang membuatku sangat khawatir, mengingat pengalaman selama menggunakan pesawat lokal, dan internasional selalu saja aku mengalami jam keberangkatan yang molor. Oleh sebab itu, meskipun Qatar Airways menuju Iran memiliki jam berangkat pukul 18.15. WIB ketika itu perasaanku tetap tenang, aku merasa selisih waktu yang kumiliki masih cukup banyak.
Diperkirakan masih ada selisih waktu satu jam lebih di Bandara Sukarno Hatta, sehingga berdasarkan pengalaman, maka waktu yang kumiliki masih cukup. Saat taxi mulai meluncur dari Kebun Kopi menuju Bandara Internasional Sukarno Hatta, seorang Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli, Direktur ICAS yang berkebangsaan Iran menelponku, menanyakan posisiku. Dengan Inggris berlogat Iran dia menanyakan posisiku dan menjelaskan dimana posisi dirinya ketika itu. Kepadanya aku menjelaskan bahwa posisiku sudah berada di taxi menuju Bandara Internasional Sukarno-Hatta, dan dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapai bandara. Sebaliknya diapun menjelaskan bahwa posisinya saat itu telah mendekati Bandara, dan menurut perkiraannya aku akan terlambat. Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli yang berkebangsaan Iran itu tahu benar berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai menuju pesawat terbang, mengingat perjalanan internasional sarat dengan berbagai pemeriksaan administrasi, ticketing dan bagasi yang kesemuanya memakan waktu cukup banyak.
Mungkin karena Inggrisku terlalu buruk iapun menugaskan asistennya bernama Muhamad Nur kembali memastikan posisiku. Dan akupun menjelaskan kepadanya dimana posisiku ketika itu, dan diperlukan waktu satu jam untuk sampai ke bandara. Akhirnya saya pun tiba di Bandara Sukarno-Hatta, kemudian segera konfirmasi tiket, mengurus begasi, dan di tempat yang sama seorang bule yang nampaknya bagian dari petugas Qatar Airways memintaku untuk bergegas, karena katanya kita hanya memiliki waktu 15 menit. Di depan petugas ticketpun aku mengatakan padanya bahwa aku ingin menunggu seorang teman, langsung diapun menjawab tidak bisa, karena kita tidak lagi punya waktu. Mengetahui hal itu akupun menelpon Prof. Dr Fazeli menanyakan posisinya. Saat itu ternyata ia telah berada di entrance alias pintu masuk, namun karena aku tidak terlalu paham dengan yang dimaksudnya maka akupun celingukan mencoba melihatnya dari berbagai arah. Waktu itu aku mengira bahwa entrance adalah pintu masuk ke bandara, sehingga saat itu sempat terbesit dibenakku bahwa ternyata aku tiba lebih dahulu. Oleh sebab itu, aku ingin menunggu kehadirannya karena aku merasa ingin memenuhi permohonan untuk membantunya mengurusi berbagai barang bawaan, terutama tas yang berisi berbagai berkas. Hal ini ingin kulakukan karena aku merasa sebelumnya telah menyepakati untuk membantunya mengingat barang yang dibawanya begitu banyak, selain membawa serta keluarga dan anak yang masih kecil. Dalam hati aku ingin membantunya.
Setelah pengurusan tiket dan bagasi selesai aku menanyakan dimana aku harus membayar pajak untuk bepergian ke luar negeri dengan menggunakan NPWP, kemudian petugas ticket menunjukkan tempatnya sehingga aku bersama istri sesegera mungkin mengurusnya. Dengan C1 dan menunjukkan NPWP, serta paspor biru akupun akhirnya bebas biaya viskal, meskipun saat mengurusnya petugas loket meminta kepadaku untuk menujukkan surat nikah bukan C1, meskipun akhirnya dia dapat menerima penjelaskaannku yang hanya bisa menunjukkkan C-1. Tidak lama setelah itu akupun bergegas, mengingat waktu semakin habis menuju antrian loket pemeriksaan, dan saat tiba giliranku petugaspun memintaku dan istri mengisi formulir data identitas, dan keterangan passport.
Saat mengisi formulir kamipun sempat dibuat bingung atas pertanyaan yang terdapat pada formulir, meskipun pengisian semacam itu bukan pertama dan baru sama sekali, setidaknya pengalamanku ke luar negeri sebelumnya membuatku telah memiliki pengalaman tentang pengisian formulir seperti itu, lagi akupun bertanya kepada petugas loket pemeriksaan, dan merekapun dengan senang hati membantu. Akhirnya kami berduapun segera masuk, mencari gate yang menuju pesawat Qaatar Airways menuju Doha. Karena waktu makin mepet istriku Nampak agak cemas, apalagi perjalanan menuju pesawat cukup jauh, yakni di Gate bernomor kecil. Tidak lama kamipun sampai ditempat pemeriksan ticket terakhir untuk kemudian naik ke dalam ruang pesawat. Seorang bule yang sebelumnya memintaku bergegas mengingat waktu sangat terbatas pun terlihat di loket pemeriksaan itu, dan akupun merasa lebih tenang, meskipun pemeriksaan itu meminta kami untuk membuka sepatu dan sebagainya.
Di loket pemeriksaaan terakhir itu juga saya mendengar si bule berkataa masih ada satu orang yang ditunggu selain kami berdua, jawabnya kepada petugas pemeriksaan. Kemudian saya bersama istri menuju pesawat hingga menemukan nomor kursi kami, dan ketika itu aku melihat Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli tengah menyusun barangnya dalam sebuah loker yang disediakan, akupun memegang badannya dan kemudian dia memperkenalkan kepada istrinya tentang saya dan dan istri.
Sayapun akhirnya siap berangkat ke Taheran bersama Prof. Dr. Seyyed Ahamad Fazeli dan keluarganya. Tentu saya senang berangkat ke Iran bersama Prof. berkebangsaan Iran, karena dia tahu betul kondisi perjalanan menuju negara asalnya itu. Di dalam pesawat kami banyak berdialog, apalagi dia membawa serta anaknya yang lucu, dan terlihat pemberani. Saya dan istri sangat terhibur dengan prilaku anaknya yang berani, ramah dan lucu itu. Prof. Dr. Fazeli pun bercerita banyak tentang rencanaanya kelak di Iran untuk kepentingan kegiataan saabbatical Leave yang akan saya lakukan. Istri saya sempat berpindah tempat duduk untuk bermain bersama puterinya yang masih berusia kecil dan lucu itu, mereka bermain dengan menggunakan bahasa masing-masing, yang penting komunikasi bisa berlangsung dua arah.
Sementara kami berdua berdialog, istri saya tampak juga asyik bermain dengan si kecil puteri Prof. Dr. Fazeli, dan sesekali nampak istri sayapun berdiskusi dengan istri sang Profesor. Entah apa saja yang mereka bicarakan, karena kami berdua pun asik berdiskusi dengan bahasa Inggris yang cukup-cukupan saja. Prof. Dr. Fazeli menjanjikan kepada saya bahwa nanti sesampainya di Bandara Imam Khomeini seseorang akan menjemput saya menuju asrama atau tempat tinggal yang telah dipersiapkan selama saya berada di Iran, khusunya di kota Qum. Ia juga akan mengatur pertemuan saya dengan para expert di lembaganya, yakni Universitas Jami’atul Mustafa International. Dia juga menyebut beberapa nama diantaranya Dr. Haji. Selama dalam perjalanan dia juga menceritakan bahwa system pendidikan di Iran memungkinkan seseorang untuk benar-benar menjadi seorang scholar, bukan hanya sekedar mendapat gelar sarjana, BA, Master, doctor dan sebagainya.
Seorang scholar katanya bukan hanya seorang sarjana, dia adalah lebih dari itu, yakni produsen teori. Dia juga menjanjikan kepada saya untuk bertemu dengan beberapa exspert, diaantaranya adalah expert yang menguasai masalah ekonomi sebagaimana yang akan saya teliti. Di minggu pertama mungkin saya harus menunggu terlebih dahulu, karena program baru mulai berjalan efektif setelah satu minggu. Dia akan menyiapkan segalanya bagi saya dan istri. Istrinya juga nanti akan mengajak istri saya untuk mendatangi masalah kajian perempuan. Prof. Fazeli juga mengatakan bahwa agendanya selama satu bulan di Iran adalah seminar yang hasilnya akana menjadi bahan pembuatan policy bagi lembaga pendidikan dibawah naungan Jamiatul Mustafa seluruh dunia.
Perjalanan dari Jakarta menuju Doha yang memakan waktu lebih dari 5 jam itu akhirnya tiba jua. Pesawat akhirnya landing di bandara internasional Doha. Kamipun turun dari pesawat menuju pos peemeriksaan untuk kemudian menunggu diruang transit selama beberapa saat, hingga pesawat Qatar lain yang akan membawa kami ke bandara internasional Imam Khomeini tiba. Selama menunggu saya pun memandangi arus penumpang yang sangat ramai, mereka memiliki berbagai tujuan manca negara. Namun di bandara Doha suasana Arab terasa sangat kental. Bahasa Arab telah santer saya dengar dari orang-orang yang duduk di sekitar saya. Tidak lupa saya pandangi saudara-saudara saya setanah air yang mayoritas wanita, mereka rupanya TKW yang telah banyak berjasa kepada negeri Pertiwi, dan tengah menanti pesawat menuju Yordania, dan tempat lainnya. Bahkan sejak di dalam pesawat saya menyaksikan jumlah mereka begitu mendominasi pesawat Qatar Airways. Seolah mereka mencharter pesawat yang saya tumpangi itu. Luar biasa.
Akhirnya waktupun tiba, pesawat yang membawa kami terbang menuju bandara Imam Khomeini segera diberangkatkan, dan kamipun bergegas melakukan checking tiket, kemudian menuju mobil bus yang akan membawa kami menuju pesawat, dan akhirnya sampailah kami di pintu pesawat. Setelah beberapa saat menunggu di dalam bus kamipun segera naik kedalam pesawat dan saat itu kamipun berpisah dengan Prof. Dr. Seyyed Ahmad Fazeli karena nomor bangku kami berlainan, rupanya kali ini kami berjauhan tempat duduk, dan tidak sebagaimana sebelumnya, dimana kami duduk dibangku yang bersebelahan. Di pesawat saya melihat ada banyak wanita yang tidak berkerudung, dalam hati saya berkata bahwa mungkin mereka ini adalah orang Iran yang sudah lama tinggal di luar negeri dan ingin mengunjungi sanak familinya di Iran, tetapi ada juga lelaki Arab atau Iran yang pergi bersama seorang teman wanitanya, meskipun dari segi usia tampaknya mereka berkisar 45-an tahun. Mereka berdua cukup akrab, dan si wanita agaknya bule, alias orang barat, karena logat Inggrisnya kental sekali. Ada juga wanita tua berjilbab yang pergi bersama keluarga besarnya. Di pesawat itu suasana Iran sudah mulai terasa.
Seperti biasanya, waktu santap makanan pun tiba. Para pramugari berwajah Asia dan pramugara berwajah Africa dengan senyumnya yang ramah menjangkau kami dengan menawarkan makanan, juga minuman. Menjelang urutan saya, maka sayapu segera membangunkan istri yang tertidur pulas di sebelah saya, dengan maksud agar dia dapat memilih jenis minuman yang diinginkan. Perjalanan yang menyenangkan itu tanpa terasa akhirnya membawa kami memasuki wilayah Iran, dan tak lama kemudian pilot pesawatpun mengumumnkan bahwa sebentar lagi pesawat mendarat di bandara Internasional Imam Khomeini. Para penumpang wanita pun mulai bergegas mengenakan tutup kepala, dengan rambut sebagian yang masih terurai. Pemandangan ini tampaknya persis seperti cerita teman-teman di Fisipol UGM yang sering bolak-balik mengunjungi Aceh Nanggro Darosalam. Dimana mentup wajah dan rambut merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap wanita yang hendak memasuki Aceh. Dalam hati saya ternyata di Iran pun kondisinya sangat toleran, kondisi ini saya saksikan pada wanita-wanita yang duduk di kiri depan saya, demikian juga wanita yang berambut agak blonde yang menurut perkiraan saya adalah wanita keturunan Iran yang telah bermukim lama di luar negeri.
Dalam hati saya mengucapkan Alhamdullillah, karena akhirnya saya sampai juga di negeri para mullah yang selama ini hanya saya kenal lewat berita televisi, cerita, dan bacaan-bacaan. Saya pun bergegas turun sambil membantu membawakan sebuah tas kecil milik Prof. Dr. Ahmad Fazeli. Kamipun akhirnya terpisah lagi karena Prof Dr. Fazeli melewati pintu pemeriksaan bagi orang yang khusus bewarga negara Iran, sementara saya masuk dalam pintu pemeriksaan yang diperuntukkan bagi orang asing. Sebelum berpisah, Prof. Dr. Fazeli juga mengatakan kepada saya bahwa pengurusan visa on arrival akan berlangsung sangat mudah, dia pun kemudian menunjukkan tempat pengurusan itu kepada saya, sembari mengatakan bahwa nanti ada seseorang yang akan menjemput kedatangan saya dan akan langsung membawa saya ke asrama, setelah itu diapun meninggalkan saya.
Kamipun meliwati pintu pengecekan, setelah pengecekan visa istri selesai, maka kini giliran saya yang menanyakan dimana tempat pengurusan visa on arrival yang hanya berlaku satu bulan. Meskipun agak memakan waktu, akhirnya pengurusan itu selesai juga. Sejumlah uang Europa harus saya bayarkan di loket pengurusan visa dan pembayaran itu ternyata tidak harus menggunakan mata uang Europa, saya bisa menggantinya dalam bentuk dollar Amerika. Beberapa orang anak muda Eropa yang juga mengurus visa on arrival sempat juga menanyakan problem saya, dan dialog kecil antar kamipun sempat berlangsung. Anak-anak itu ternyata memiliki kerjasama dalam bidang arsitektur dengan orang Iran, bahkan mereka menyebut bahwa ini adalah kunjungan mereka yang kedua kalinya.
Setelah semua urusan visa on arrival selesai, saya pun mencacari istri yang sudah lebih dahulu berada dibawah, rupanya ia telah siap dengan barang-barang bawaan kami yang ada dibagasi. Segera kamipun mengambil troli, menaikkan barang-barang di atas troli, dan kamipun menukarkan sebagian uang dollar yang kami miliki dengan mata uang real Iran. Sesungguhnya saat di Yogya kami telah mencoba mencari uang real Iran tetapi money changer tidak menyediakan uang tersebut. Setelah itu kami pun bergegas keluar, melalui pintu pemeriksaan barang bawaan. Saya lihat seorang wanita cukup usia dengan mengenakan cadur berwarna hitam bertugas memantau barang bawaan kami di pintu keluar. Kamipun akhirnya duduk menunggu petugas yang akan menjemput kami di atas bangku yang terjejer panjang dan bersaf-saf untuk para penunggu.
Berhadapan di tempat saya duduk tiga orang wanita mengenakan celanan panjang ketat, jeans berwarna biru, sepatu panjang, modis, dan nampaknya mereka juga sedang menunggu sanak keluarganya. Tiga wanita yang amat modis itu mengingatkaan saya pada mahasiswi-wahasiswi yang kerap saya temukan diberbagai pusat perbelanjaan atau mal-mal yang ada di yogya. Pemandangan tiga wanita Iran ini juga mengingatkan saya pada buku yang berkisah tentang pesona Iran yang ditulis oleh Dina dan Ottong Sulaiman yang mengisahkan pengalamannya selama 8 tahun tinggal di Iran. Dalam hati saya benar, wanita muda Iran ternyata kalau sudah tampil modis luar biasa, gak jauh beda dengan wanita-wanita muda yang pernah saya lihat di mal-mal Indonesia, bahkan dengan tinggi badan yang melebihi wanita Indonesia, wanita Iran ternyata terkesan lebih bisa tampil maksimal.
Selama beberapa saat sayapun bertanya-tanya dalam hati, siapa yang akan menjemput saya. Apakah dia adalah nama yang sudah saya kenal, atau dia adalah orang yang baru sama sekali. Saat itu penumpang satu pesawat dengan saya nampak sudah tidak terlihat lagi, kebanyakan mereka sudah meninggalkan bandara, dijemput atau naik taksi meninggalkan bandara Imam Khomeini. Saya pun segera mencari Iran sell, sim card yang dianjurkan oleh Prof. Dr. Fazeli untuk segera saya miliki agar dapat berkontak dan berkomunikasi dengannya. Sayangnya di bandara saya tidak mendapatkannya, di sebuah coffee net yang seharusnya menjual ternyata setelah saya tanyakan tidak juga ada. Walhasil saya hanya bisa celingiukan, menunggu dan menunggu. Terkadang terdengar beberapa kali suara seseorang petugas melalui microphone memanggil nama yang mirip-mirip nama saya, tetapi alamat dan tujuan tidak terdengar jelas, jadi saya tidak menganggap nama yang disuarakan adalah nama saya. Sampai suatu ketika, saya memutuskan untuk sholat, kemudian bergegas mencari tempat wudlu dan mushalla. Ketika tempat wudlu saya dapatkan, dan saya selesai mengerjakan wudlu, serta pergi ke arah tempat ibadah, seseorang bertubuh gemuk, berwajah ke Arab-Arab-an menanyakan kepada saya “Supraga”, Qom. Akhirnya saya tanyakan dalam bahasa Inggris apakah orang yang dimaksudkan benar-benar adalah saya? Sayang dia tidak bisa berbahasa Inggris.
Akhirnya saya lihat sehelai kertas yang dibawa bertuliskan Dr. Supraga, dan sayapun yakin kalau itu yang dimaksudkan adalah saya. Apalagi yang dituju adalah kota Qom, itu pasti saya. Demikian lah keyakinan saya, dan akhirnya saya pun mantab, sayapun segera menghampiri istri, dan segera begegas menju mobil yang dikendarainya. Diluar bandara udara serasa dingin sekali, dan sayapun cepat mengenakan jacket yang telah saya persiapkan dari Jakarta. Setelah semua barang masuk di begasi, kamipun berangkat menuju Qom. Selama diperjalanan sekali waktu saya menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa Inggris kepadanya, tetapi dia menjawab dalam bahasa Persia. Tetapi saya melihat lelaki tambun yang mengendarai mobil ini ramah, dan kemudian dia menjelaskan kepada saya bahwa kita akan menuju Qom. Disepanjang jalan saya melihat papan penunjuk kota Qom yang berjarak 90-an KM dari bandara Imam Khomeini.
Di sepanjang perjalanan menuju Qum, saya menyaksikan betapa lampu-lampu jalan menerangi jalan panjang menuju kota Qom. Ini fenomena yang tidak saya jumpai di Indonesia, sehingga kesan yang terasa adalah rasa aman di sepanjang jalan. Selain itu saya juga menyaksikan bahwa jalan yang saya lalui ternyata terpisah dengan jalan yang dilalui mobil-mobil berat seperti bus dan truck. Sepertinya ada pemisahan yang cukup tegas antara mana jalan yang dilalui kendaraan pribadi atau sedan, atau taxi dengan mobil trucuck, bus, dan mobil berat jenis lain, sehingga perjalanan jadi terasa nyaman. Sesekali saya menengok ke driver ternyata rata-rata di pagi buta itu ia memacu kecepatan hingga angka meteran kecepatan mencapai 100-120. Lumayan kencang, dan kiri kanan saya melihat hamparan perbukitan tandus dengan satu dua rumah yang menyertainya.
Kedatangan saya di bandara Imam Khomeini terbilang cukup pagi, yakni jam 4 waktu setempat, mulai terlihat jelas bahwa setelah mencapai beberapa puluh kilo meter meninggalkan bandara, sang sopir yang berrtubuh tambun dan sangat ramah itu kelihatan mengantuk. Sehingga di suatu kedai kecil ia menghentikan mobil yang dikendarainya, dan mengambil posisi pinggir kanan untuk sebentar ia pun memejamkan matanya. Saya juga demikian, dan taklama setelah itu ia pun turun, untuk menawariku ikut bersamanya. Meski dengan menggunakan bahasa Persia-nya yang tidak kumengerti sama sekali. Ia turun dengan membawa sebuah gelas kosong yang sebelumnya tergeletak di depan speedo meter mobil yang dikendarainya, dan kemudian bercakap-cakap dengan penunggu warung untuk meminta segelas air panas. Tangki air panas yang dimasak dengan menggunkan listrik ternyata tidak memiliki persediaan air panas, sehingga diperlukan waktu untuk memasaknya hingga air mendidih, dan nampak ia pun meminta satu kantong teh celup dengan penunggu warung, yang siap disedu bersama air panas yang tengah dipersiapkan.
Aku mengambil dua buah minuman berkotak kecil rasa nanas, dan sebelumnya akupun menawari sang sopir mengambilnya jika mau. Setelah itu aku pun segera membayar tiga kotak minuman rasa nanas. Tak lama setelah air mendidih sang sopir kemudian mengambil sebungkus teh sedu yang dituangkan di dalam gelas bersama air panas. Ia juga mengambil sebungkus makanan sejenis kacang yang dibawa bersama segelas teh panas ke dalam mobil, dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota suci Qom. Sepenjang perjalanan itu sang sopir terlihat asik dengan segelas tehnya sembari mengelupasi kulit kacang dengan mulutnya. Setelah beberapa puluh jumlah kancang habis, kulitnyapun dibuang lewat kaca jendala mobil yang diturunkannya. Dan kulit kacangpun berhamburan bersama udara pagi yang menusuk tulang. Di sepanjang jalan menuju Qom aku menyaksikan sopir mobil itu menjadi lebih rileks dengan teh dan kacangnya, sampai tak terasa fajar pun mulai menyingsing melewati kegelapan. Ketika mulai memasuki kota Qom saya pun mulai melihat keramaian kota di pagi buta, seperti nampak mobil mulai ramai berseliweran. Taklama kamipun sampai di tempat yang dituju, yakni mustama’ Shahid Bahesti number two.


Apartemen internasional Sahid Bahesti, number two, dari luar dan dalam
Sesampainya di apartment sepertinya penjaga telah tahu kedatangan saya, dan langsung saja mereka membantu membawakan tas koper ke ruangan yang akan saya tempati. Sayapun mengucapkan terimakasih kepada sopir yang telah mengantarkan saya hingga sampai di apartement. Tidak lama setelah itu kamipun bergiliran mandi, dan kemudian bersiap-siap tidur, karena badan mulai terasa capai dan kantukpun mulai terasa.
[1] Penulis adalah Staff pengajar pada Sosiologi-Fisipol UGM dan peneliti pada Intitute Independent, Yogyakarta, Saat ini tengah melakukan kegiatan Sabbatical Leave di “Institute for Short Course and Sabbatical Leave “ Qom, Iran
